Pura Segara Penida


Pura Segara Penida

Pura Penida yang termuat dalam Babad Nusa Penida fersi Dukuh Jumpungan, Berada di tepi pantai sebuah teluk di bagian barat Pulau Nusa Penida, teluk ini menurutr penulis juga lumayan indah pemandangannya karena tepat di mulut teluk ini terdapat sebuah pulau kecil atau gili kecil yang disebut Batu Mejineng, dan sebagai beground gili kecil ini yaitu Pulau Nusa Ceningan. Keberadaan Pura Penida ini tepatnya di Banjar PenidaDesa Sakti Kecamatan Nusa Penida kabupaten Klungkung Prov Bali Indonesia. Pura Penida ini diempon atau dipertanggung jawabkan pisik maupun non pisiknya oleh warga masyarakat Desa Sakti secara keseluruhan dan warga masyarakat beberapa Banjar Desa Bunga Mekar yang merupakan sebuah Desa yang tidak terlalu tua umurnya karena keberadaannya merupakan hasil pemekaran dari Desa Sakti.

 

Pada umunya di Nusa Penida, setiap Pura yang berdirinya di dekat pantai selalu Pura tersebut di namakan Pura Segara, tidak terkecuali Pura Penida juga di kenal dengan nama Pura Segara Penida. Demikian juga Pura – pura lainnya, apakah itu Pura Dhang Khayangan, Pura Desa, bahkan Pura – pura kecil atau tempat penyiwian juga tidak luput dari sebutan Pura Segara. Sehingga hal ini menurut penulis perlu kiranya dibenahi khususnya pemahaman terhadap nama – nama Pura agar disesuaikan dengan Fungsinya, karena jika hal ini dibiarkan tidak tertutup kemungkinan generasi berikutnya akan mewarisi kebingungan, jika dalam hal menyembah manifestasi Ida Sanghyang Widhi saja anak cucu kita kebingungan, apalagi dalam hal mencari makan untuk menyambung hidup ini? Sekecil apapun yang namanya kekeliruan hal tersebut tetap mempunyai dampak yang negative terhadap diri seseorang yang memiliki paham tersebut maupun terhadap lingkungan di mana Pura itu berada.  Hal yang negative yang bisa terjadi pada diri seseorang yang mempertahankan paham yang keliru, yaitu semakin butanya hati dan pikiran untuk mencari dan mendapat hal – hal benar sehingga apa yang didengar dari orang lain yang dipercaya, yang didengar itulah dipertahankannya walau nyata – nyata hal itu adalah keliru. jika kekeliruan ini dipertahankan bukankah lambat laun akan menjadi budaya di lingkungan di mana pura itu berada? jika jawabnya ya, betulkah budaya tersebut akan menjadi Budaya Yang Keliru? Jika jawabnya juga ya, itu berarti kita akan memiliki generasi yang keliru dan lingkungan yang keliru. Apakah ini kita biarkan? tanyalah diri kita masing2 dan jawablah dengan kata hati!!!

 

Pura Penida dibangun oleh Ki Dukuh Jumpungan setelah beliau selesai membuat loloan atau kali yang ada di Banjar Penida, demikianlah beberapa kalimat yang termuat dalam babad Dukuh Jumpungan yang juga di Nusa Penida terkenal dengan sebutan Babad I Renggan. Dan di sekitar Pura lah Ida Ki Dukuh Jumpungan menginjakan kakinya yang pertama di Pulau Nusa Penida. Serta menetap di pinggir pantai dan di pinggir sungai (loloan) Penida, Untuk status Pura Segara Penida, penulis belum berani untuk meng informasikannya, tapi jika melihat ceritra yang ada dalam Babad Dukuh Jumpungan, status pura ini sangatlah jelas yaitu Dhang Khayangan, namun jika kita melihat dari sudut pandang nama Pura ini, cendrung Pura Segara Penida ini merupakan Pura Swegina, yaitu sebuah Pura tempat para nelayan, atau para pengusaha, yang bergerak di laut untuk meng agungkan nama Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam manifestasiNya sebagai Ida Bhatara Baruna, serta tempat untuk mewujudkan rasa bhakti dan terima kasih para nelayan atau lainnya yang berkaitan dengan laut kepada beliau Bhatara Baruna. Hal inilah yang penulis maksud untuk dibenahi, agar pura – pura yang ada khususnya di Nusa Penida, agar jangan nantinya kekeliruan semakin menggunung. selain Pura Segara Penida yang penulis maksud, masih banyak pura – pura segara lainnya yang penulis rasa tidak sesuai dengan namanya jika penulis melihatnya melalui Babad Dukuh Jumpungan. Termasuk banyak Pura Segara yang di empon oleh sebuah Banjar atau Desa Pakraman di Nusa Penida. Bila saja kalimat SEGARA tersebut yang melekat pada nama pura tersebut hanyalah sebagai nama, dengan alasan bahwa pura tersebut berada dekat dengan pantai, penulis tidak terlalu risih atau mempermasalahkannya, tapi bila nama SEGARA tersebut yang artinya memang seperti PURA SEGARA swagina, inilah yang penulis maksud bahwa sebuah desa pakraman atau banjar pakraman tidaklah lajim mengempon Pura Segara bila kita mengacu pada tujuan sastra  yang menyatakan bahwa Desa Pakraman ini yang ada di Bali ini di tata oleh Ida Rsi Markandya, hanya dengan tiga dasar pemikiran, yaitu Parahyangan, Pawongan,Palemahan, sungguh sangat sederhana dasar tersebut jika kita menghitung jumlahnya, namun makna serta tujuan tiga dasar tersebut sangatlah luas dan luluh menyatu menjiwai  dalam segala hal di dunia ini. Tanpa dijiwai oleh tiga hal tersebut, sedikit kemungkinan kehidupan akan terjadi di dunia ini. Boleh jadi nama Segara tersebut kita warisi dari nenek moyang kita, namun jika hal tersebut bertentangan dengan sastra yang ada yang juga merupakan asal muasal terciptanya dunia, kenapa tidak kita benahi ? Kenapa kita harus takut untuk membenahi kearah yang lebih positif? dan kenapa kita harus mempertahankan yang keliru? sementara kita sebagai umat yang memeluk agama hindu sudah sangat jelas dasar atau pijakan kita dalam menata lingkungan ini. Dan penulis sangat bersyukur telah terlahirkan ke dunia ini dari rahim seorang manusia yang ber agama hindu, penulispun merasa pisik ini walau mampu hidup selama seribu tahun lamanya takan ada artinya di dunia ini setelah pisik ini ditinggal oleh penghuninya yang maha mulya, hanya pemikiran yang benar, bicara yang benar, dan perbuatan yang benar, yang tidak akan terjamah oleh kelapukan, kematian, kehancuran, dan itulah yang ingin penulis wariskan pada anak cucu kita kelak.

 

Jika memang nama Segara tersebut kita mendapat dari warisan nenek moyang kita terdahulu, salahkah keturunannya melestarikannya dan memebenahinya menuju arah dan fungsi yang sebenarnya? Jika saja jawabnya ya, tentu akan timbul pertanyaan lain lagi, yaitu: apa yang mendasari pemikiran seseorang yang menjawab ya tersebut? Nah demikianlah para pengunjung yang penulis hormati, secuil rangkaian hurup yang merupakan ungkapan dari apa yang dilihat dan dialami oleh penulis termasuk juga yang terjadi di Desa Pakraman Penulis sendiri. Sampai disini dulu penulis temani para pengunjung, mudah – mudahan kita selalu dalam lindungan Ida Sanghyang Widhi Wasa, sehingga kita dapat jumpa lagi walau hanya lewat media  dunia maya ini. Terima Kasih.

Untuk Informasi tentang fisik Pura Segara Penida, penulis akan berusaha untuk mendapat Gambarnya dan segera akan penulis aploud di blog ini. Terima kasih atas kunjungan anda.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: