Putra NP berbicara.


Nusa Penida Menggugat.

Om Swastyastu

Om Awignam mastu nama sidham.

Dengan segala kerendahan hati, penulis menyampaikan beribu – ribu maaf pada setiap rekan/saudara/sahabat yang menyempatkan diri untuk membaca tulisan ini, Semoga apa yang penulis sajikan bermanfaat minimal memberikan setitik atau secercah sinar dalam benak untuk membuka logika yang paling dalam, sehingga didalam membaca dan memahami karya – karya tulis yang banyak beredar bagaikan jamur yang tumbuh subur di musim hujan, agar jangan sampai seperti kata anak2 bali yaitu 3A, Apa Ada Amah manakala kita membaca dan memahami sejarah atau babad yang sedang kita baca.

Penulis sangat mengharap dan mengharap terus menerus semoga apa yang di dengar, di lihat, dirasakan menjadi sebuah tolok ukur pada diri pribadi si pembaca dalam menganalisis sebuah kebenaran yang tertulis dalam banyak artikel yang kini banyak beredar di dunia maya. Kebenaran atau kesalahan itu tidak akan muncul kepermukaan benak seseorang jika saja salah satu diantara benar dan salah itu tidak tampil bersama – sama. Ibarat terangnya siang hari ini kita tidak akan pernah tahu jika saja gelapnya malam tidak pernah kita alami atau tidak ada. Demikian pula halnya pada semua hal – hal yang terjadi di dunia ini, terutama yang mempunyai sifat atau bentuk dan karakmteristik yang mempunyai dua kutub yang berbeda. Apakah itu benda mati? Benda hidup? Bisa dilihat? Bisa Di dengar? Bisa dirasakan? Kutub satunya akan tertawa riang gembira sembari menepuk dada bahwa dialah yang paling benar, jika kutub yang satunya tertidur lelap berselimutkan AJA WERA (tidak boleh dibilang – bilang), Pertanyaan dari penulis yang timbul dan bertanya pada diri sendiri, kenapa sekian banyak artikel – artikel atau karya tulis yang beredar di dunia maya ini tak seorang pun yang mempertanyakan atau menglogikakan cerita – cerita yang di muat? Pada hal ke dua kutub yang penulis maksud telah bersama – sama di munculkan, Apakah artikel – artikel atau karya tulis yang di baca itu hanya merupakan sekedar sarana untuk mengisi waktu luang? Tidakkah ada pengaruhnya terhadap logika si pembaca? Jika di biarkan begitu saja tanpa ada yang mempertanyakan setidak – tidaknya mencoba untuk merajut serpihan – serpihan yang tercecer itu, apa yang akan di alami oleh generasi penerus kita? Kemana mereka akan kita arahkan? Kepada kebohongan? Apakah pada titik yang sebenarnya? Mari kita bersama mencoba untuk memberikan mereka sesuatu yang bernilai, walau nilainya amat rendah, karena generasi kita berikutnya adalah orang2 yang penuh dengan logika, kita kesampingkan sejenak  AJA WERA, kita kedepankan AYU WERA demi semakin terangnya sebuah kegelapan, yang mana kegelapan itu di timbulkan oleh sinar2 yang redup karena ketebalan asapnya yang mengisolasi!!!

Demikian banyak sinar2 yang tanpa logika berkeliaran di daratan nyata maupun di dunia maya, sehingga bisa dipastikan akan memberikan efek yang membingungkan, kreatif bagi kami adalah merupakan wujud nyata dari usaha – usaha untuk menyambung hidup ini agar sampai pada tujuannya nanti, namun seperti yang kita pahami bersama, bahwa kreatif bagi pemahaman seorang hindu hendaknya jangan sampai melupakan bahkan meninggalkan etika dan estetika. Hindu mengajarkan dalam segala hal hendaknya kita selalu berlogika, beretika dan berestetika, hal ini jelas terdapat pada modal dasar hidup seorang hindu yaitu, Dharma, Arta, Khama, Moksa. Bisa jadi dalam hal ini dharma bagi kami adalah suatu kebenaran yang mutlak, sehingga ke 2 unsur yaitu arta, khama, selalu hendanya berlandaskan dharma untuk mencapai tujuan hidup yaitu moksa, jika hal ini dapat kita capai, kami yakin dengan seyakin – yakinnya kita akan menemui Arti Hidup. Apa yang kami sampaikan disini hanyalah merupakan sesuatu yang tak bernilai guna, namun di balik itu kami yakin segala sesuatu yang ada di dunia ini pastilah ada gunanya. Jika saja menurut pengunjung yang kami hormati tulisan ini ada gunanya, mari kita bersama mencoba menelaah ceritra2 ataupun babad2 yang ada kaitannya dengan Nusa Penida dengan suatu logika, karena bagi kami hanya logikalah yang mampu akan menunjukkan kebenaran walau kebenaran tersebut hanyalah di dalam hati. Mari kita istirahat sejenak untuk memburu rupiah, apa lagi rupiah diburu dengan tanpa menghiraukan efek negatif pada orang lain sangatlah nista jika hal tersebut sampai kita lakukan, marilah kita istirahat sejenak memburu ketenaran, apalagi ketenaran itu kita dapatkan dari penistaan pada orang lain atau pada peninggalan pendahulu kita, kita adalah orang2 yang berbudi, orang2 yang berbudaya, kenapa kita harus tinggalkan budi dan budaya itu hanya karena rupiah atau ketenaran? Jika saja kita sampai meninggalkan budi dan budaya, apakah layak kita di sebut seorang hindu? Layakkah kita disebut sebagai seorang budayawan? Mari kita Tanya diri masing2, dan kita jawab pertanyaan ini dengan hati yang paling dalam, karena jawaban ini akan kita peruntukkan pada diri kita juga.

Budayawan bagi kami adalah seseorang yang memiliki budi yang jauh berpandangan kedepan namun tidak terlepas dari kebenaran yang telah ada, kebenaran yang kami maksudkan adalah kebenaran yang tidak bisa dilogikakan oleh siapapun sehingga mutlak adanya, sebab bagi kami kebenaran itu akan terang benderang bila saja kebenaran itu berdiri diatas kakinya sendiri, tanpa campur tangan siapapun, kami sangat yakin kebenaran itu akan mutlak adanya jika saja kebenaran itu tidak direkayasa, dan yang paling membanggakan kami, kebenaran yang murni akan menunjukkan jalan yang benar dan terang bagi anak cucu kita dikemudian hari.

Jika saja seekor binatang saat matinya bisa meninggalkan gading atau belangnya, kenapa kita sebagai manusia hanya bisa meninggalkan nama yang penuh dengan sejarah rekayasa yang berdampak negative? Kami menyadari dalam hal menentukan kebenaran itu berbeda – beda di setiap orang termasuk kami, namun kami sangat bersyukur dengan adanya kami memepunyai latar belakang pendidikan yang sangat rendah, sehingga kami tidak menyukai rekayasa yang berdampak negative, apalagi dampak yang negative itu akan merusak pemahaman genersai kita tentang kebenaran sejarah yang ada.

Mungkin pengunjung bertanya – tanya dalam hati, apa si alasannya MTDG sampai berbicara seperti diatas? Apa kepentingannya kok MTDG cuap2 di blog sampai2 tak tau dirinya yang belog?

Oh ya para pengunjungku yang terhormat, MTDG berbicara atas panggilan hati nurani yang amat dalam, MTDG merasa diri ini tak ada gunanya dalam hal ini bahkan semua apa yang MTDG lihat seolah – olah nggak ada gunanya, semua itu terjadi karena MTDG telah membaca dan melihat yang ada terlebih dahulu, namun kini nggak ada gunanya, jika saja yang terdahulu itu kini ada gunanya kenapa banyak yang muncul baru? selain banyak muncul yang baru masing2 dari yang muncul semuanya MTDG lihat dan baca berbeda – beda, masing2 dari perbedaan tersebut MTDG melihat ada kecendrungan untuk menampilkan diri yang paling benar. Adakah kebenaran itu muncul dalam perbedaan khususnya pada Sejarah atau Babad Nusa Penida, sementara obyek atau sasaran dari yang muncul itu satu? Kalau saja yang muncul itu bagian dari yang satu MTDG sangat bisa menerimanya dengan senang hati. Apa alagi bagian yang satu itu muncul dengan apa adanya tanpa ilustrasi dari Sang kreatifator dengan kata yang amat menjijikan MTDG yaitu pawisik. Dalam hal ini MTDG sangat ingin sekali rasanya membahas tentang pawisik itu baik dengan siapa saja, apakah itu di luar lingkungan hindu atau di dalam lingkungan hindu apa lagi dengan Sang penerima pawisik itu sendiri. Boleh jadi MTDG haus akan pawisik, namun MTDG juga mual2 dengan kata2  PAWISIK.  yang jelas menurut MTDG ( da pawisike anggona ngalih pis yaaaaan.)

Bagi yang ingin membahas tentang pawisik atas dasar logika yang bisa diilmiahkan, mari MTDG sediakan alamt Email: mangkutudegembrong@yahoo.co.id atau lewat sms ke 081311611088 pengunjung jangan khawatir pasti MTDG balas. ini bukan merupakan tantangan dari MTDG, tapi tidak lebih dari keinginan MTDG agar tahu yang sebenarnya, karena menurut MTDG selama ini yang benar itu adalah SATU bukan banyak seperti hama wereng yang tak pernah terkena obat pembasmi.

Adapun kepentingan MTDG bercuap ria di blog ini, hanyalah sebagai obat hati MTDG yang selama ini sakit karena yakin bahwa yang benar itu adalah satu, namun ternyata kini keyakinan MTDG itu pupus oleh ramainya pasar malam yang indah, yang dihiasi oleh banyak atribut sejarah atau babad nusa penida yang berwarna warni. MTDG mohon dengan amat sangat pada pengunjung yang budiman agar sedikit rela kiranya memberikan obat sakitnya MTDG, agar sakitnya MTDG bisa sehat kembali, dan kembali bisa percaya pada yang satu! Demikianlah wahai saudaraku para pengunjung yang budiman, sampai disini dulu MTDG bisa temani, mudah – mudahan pada waktu yang lain MTDG bisa menambah posting di blog yang amat belog ini. Terima kasih semoga Dhirgahayu dhirgayusa bhuwana alit bhuwana agung! Suksma, Om Santhi – santhi – santhi Om

NB: SEBAGAI TANDA PERKENALAN MTDG PADA PENGUNJUNG, PADA BLOG2 NUSA PENIDA ANGKAT BICARA INI, MTDG TAMPILKAN BEBERAPA SEJARAH NUSA PENIDA ATAU BABADNYA, BEBERAPA DIANTARANYA  ADALAH DARI BUKU2 ATAU LONTAR2 YANG MTDG TEMUKAN DI DARAT, ADA PULA DIANTARANYA MERUPAKAN HASIL JALAN2 MTDG DI DUNIA MAYA INI, ADAPAUN HADIAH DARI KARYA MTDG SENDIRI AKAN MTDG BERIKAN BERBENTUK SAMPEL RARAJAHAN YAJNYA YANG MERUPAKAN HASIL OTAK ATIK DI COMPUTER, KONE ADANIN KOMPUTERISASI, BEH LIKAD SAN LAYAH MTDG NGORANG TO NOK! SAJAN WAK TRA MASUK MEABET CANGGIH GEN NGERAOS! NAH KANGGOANG GEN IBA ULING NUSA AGAK PANTESAN BEDIK PELIH NGERAOS KETIMBANG KEN ANAK MASUK JOH GUMI MAAN GAGAPAN SABU – SABU.

About suaranusapenida

Putra asli Nusa Penida

Posted on 29 Maret 2010, in Babad Nusa Penida, Buku - buku, Info Nusa Penida, Khara Kalih, Mangku Tude Gembrong, MTDG Suprice and tagged , , , . Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Putra NP berbicara..

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: